Setelah melewatkan pameran Yayoi Kusama dengan polkadot gemesnya, akhirnya saya bisa juga mengunjungi MUSEUM MACAN walaupun dengan tema pameran yang berbeda.

Buat yang belum tau lokasinya dimana, Museum Macan letaknya di Gedung AKR atau AKR Tower di jalan perjuangan, Kebun Jeruk. Lokasinya tidak jauh kok dari pintu tol Kebun Jeruk.  Kalau kamu ngeh, Museum ini bisa kamu lihat saat melalui tol Jakarta-Tanggerang.

Bagi yang belum tahu apa itu Museum Macan, sesuai dengan kepanjangan MACAN itu yaitu Modern and Contemporary Art in Nusantara, berisi koleksi yang difokuskan pada karya seni modern dan juga kontemporer tidak hanya dari Indonesia tapi juga dari luar negeri. Karya seninya bisa berupa lukisan, foto, diorama, pertunjukan dan lain-lain.Masing-masing karya seni ini akan ditampilkan dalam jangka waktu tertentu, rangenya setiap 3 bulan sekali. Tidak seperti bayangan akan museum yang membosankan, gelap, creepy, Museum Macan ini jauh dari kesan itu semua. Semua terasa menyenangkan dan yang pasti bisa memberikan hal baru dari apa yang kamu lihat disini.

Welcome to Museum Macan

Saat saya kesana, sedang diadakan pameran dari 3 seniman besar dengan aliran seni yang berbeda satu dengan lainnya. Ada Arahmaiani dari Indonesia dengan gaya kontemporer. Beliau banyak menyuarakan isu-isu hangat pada saat itu.

Salah satu karya seni dari Arahmaiani : For Sale

Lee Mingwei yang suka melibatkan banyak orang dalam pembuatan karyanya. Ada satu karyanya  yang membuat saya terkesan yaitu The Dining Project. The Dining Project adalah suatu karya seni dengan konsep proses bertukar cerita, rasa dan pikiran saat makan malam. Cara menikmatinya adalah nanti pihak museum akan memilih secara acak pengunjung yang sudah mengisi formulir dengan tanggal yang sudah ditentukan sebelumnya. Kebayang kan dua orang yang tidak saling kenal akan menghabiskan waktu bersama dengan jamuan makan malam yang sudah disiapkan. Hmmm…

The dining project

Dan satu lagi seniman asal Jepang bernama On Kawara. Kawara lebih mengedepankan konsep yang simple dalam kegiatan keseharian. Salah satu karya seni yang melegenda adalah One Million Years. 2 orang pria dan wanita akan membacakan tanggal dari bukunya yang terdiri dari satu juta tahun dari 998031 SM dan juga satu juta tahun masa depan hingga 1001997 Masehi.

Saya memang bukan pemerhati seni dan tidak mengikuti perjalanan karya meraka tetapi terkadang menikmati tidak perlu melulu mengerti kan 😀

Setelah membeli tiket pada counter di lantai 1 sejumlah 100ribu rupiah/orang, saya menuju lantai 2 untuk memasuki main hall-nya. Museum ini terkesan sangat luas karena sekat yang minimal, langit-langit yang tinggi dan juga penerangan yang cukup membuat seluruh karya seni mendapat cahaya yang cukup. Penataan yang apik dan juga menarik membuat saya betah berlama-lama membaca satu-persatu informasi yang ada disetiap karya seni yang ditampilkan. Sebenarnya adanya bapak security di beberapa titik sedikit mengurangi kenyamanan sih tapi ya sangat maklum sih, banyak orang Indonesia yang ngeyel dengan peraturan, kata-kata JANGAN, atau DILARANG. Ya kan?

Salah satu sudut di Museum Macan

Namanya menikmati “rumah orang” wajar dong kalau ada aturan, niatnya baik kok agar semua pengunjung baik yang datang pertama saat pemaran dibuka sampai pengunjung terakhir saat pameran ditutup bisa menikmati hal yang sama tanpa kekurangan suatu apapun. Kita bebas melihat tanpa menyentuh karya seni pun juga bebas berfoto tanpa flash tapi perlu diperhatikan ada beberapa spot yang melarang kita mengambil foto. Semua ada petunjuknya kok asal dibaca dan mau peduli. Semua itu tidak mengurangi kenyamanan menikmati karya seni tersebut loh. Bangga sekali Jakarta atau Indonesia punya museum yang bersih, rapi, dan menyenangkan seperti ini, berasa naik kelas!

Project menjahit sambil bercengkrama

Ada hal yang menarik selain menikmati koleksi seni yaitu saya didatangi oleh seorang perempuan yang meminta izin untuk memberikan saya sebuah performance. Tentu saja saya balas dengan anggukan dan senyuman. Kemudian saya dibawa ke sebuah ruangan besar dengan salah satu space yang berisi kursi dan meja tinggi dengan pemutar lagu. Tak berapa lama, meluncurlah alunan musik dan suara merdu dari perempuan tadi yang ternyata adalah salah satu seniman disana.

Sang penyanyi
Duduk sambil menikmati alunan lagu dan nyanyian

Tidak semua pengunjung akan dipersembahkan lagu oleh sang seniman, dia akan memilih acak pengunjung yang datang murni berdasarkan feelingnya. I’m so lucky!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *